Postingan

Menampilkan postingan dengan label aksi

Jalan-Jalan Ke Jepang, Jangan Lupa Membeli Roti. Et dah, Kejauhan!

Gambar
Tagar WFH atau Work From Home, self quarantine, segala macam pekerjaan luar rumah yang dialihkan ke dalam rumah, menjadi trending topic sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Miris sekali, pekerjaan yang semula mudah dikerjakan malah jadi agak rumit dan menumpuk karena sistem online. Jujur, saya sebagai mahasiswa yang tumpukan tugas lebih banyak dan ribet daripada tugas biasanya, malah jadi makin malas mengerjakan. Kalau sudah begini, kerjaan saya hanya merebahkan diri di atas kasur lalu otak saya berkelana kemana-mana. Kurang lebih setengah jam saya memikirkan mengapa orang-orang menyebut pembalut wanita dengan nama roti Jepang? Padahal dibuatnya bukan di Jepang dan enggak ada roti yang bentuknya seperti pembalut. Sekali pun ada, mungkin untuk properti halloween. Oh, ya, sekadar mengingatkan, halloween itu bukan budaya kita, ya. budaya kita itu mencari pembalut di kelas bisik-bisik ke teman tepat di telinganya dengan kalimat andalan, “Eh, ada roti jepang enggak?” suda...

Femisida : Pembunuhan Terhadap Perempuan Karena Ia Perempuan

Gambar
Femisida : Pembunuhan Terhadap Perempuan Karena Ia Perempuan Jumlah perempuan korban kekerasan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam Catahu Komnas Perempuan, per tahun 2019, kekerasan terhadap perempuan mengalami lonjakan naik sampai di angka 431.471 kasus yang mana meningkat 792% sejak 12 tahun lalu, meningkat hampir 8 kali lipat sejak 2008. Salah satu jenis kasus kekerasan terhadap perempuan ini adalah Femisida ( Femicide) yang istilahnya masih belum dikenal olah masyarakat umum dan sering disepelekan menjadi kasus kekerasan biasa oleh lembaga penegak hukum. Femisida yang dalam bahasa Inggris Femicide adalah kejahatan atas dasar kebencian berbasis jenis kelamin dengan perempuan sebagai korbannya. Dalam Catahu Komnas Perempuan 2020 dijelaskan,   femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan karena dia perempuan. Kekerasan seperti pelucutan martabat korban yang dianiaya, dibunuh, diperkosa dan ditelanjangi. Kasus kekerasan berbasis gender i...

Seruan Aksi Damai

Seruan Aksi Damai Jakarta, perpindahan wewenang kementrian dan masa jabat baru tentu membawa harapan-harapan baru untuk ke depannya. Namun naas, perpindahan kementrian yang menaungi Pendidikan tinggi dari Kemenristekdikti ke Kemendikbud ternyata tidak mengalami perubahan dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di ranah Pendidikan tinggi. Masih banyak kasus-kasus yang belum mendapat penanganan yang baik bahkan malah korban dianggap sebagai tersangka. Maka dari itu, Rumah Faye membuat seruan aksi damai pada 10 Februari 2020 dengan titik aksi di Gedung Kemendikbud demi penegakan hukum yang adil dan benar terutama dalam issue perempuan dan pelecehan seksual di Pendidikan tinggi.