Saya Memutuskan Untuk Jadi Feminist dan Saya Marah
Saya Memutuskan Untuk
Jadi Feminist dan Saya Marah
Jakarta, sabtu (29/02) hari
kabisat yang terjadi empat tahun sekali dan saya ingin sekali memanfaatkan
tanggal yang hanya ada dalam empat tahun sekali ini menjadi tidak sia-sia. Pada
hari itu, saya memutuskan untuk jadi aktifis feminist dan bergaul dengan
aktifis lainnya dalam acara Panggung Ekspresi Gerak Perempuan di LBH Cikini,
Jakarta.
Belakangan ini saya muak dengan
keadaan negeri pertiwi yang semakin tidak peduli dengan azaz kemanusiaan. Susah
rasanya memanusiakan manusia. Genderisasi di mana-mana dan oknum nomor satunya
adalah laki-laki. Perempuan-perempuan dari berbagai kalangan merasa cemas dan
muncullah kampanye tentang feminisme di mana-mana. Saya sempat tidak
memedulikan itu semua. Enggan repot-repot turun ke jalan, malas juga dengar
keluh kesah sesama perempuan dalam menjalani hidup menjadi perempuan. Bagi
saya, masalah setiap orang adalah hal yang harus diurus oleh individu itu
sendiri, tak perlu melibatkan orang lain. Lagi pula ‘kan, jadi perempuan itu
sudah menjadi kodrat yang tidak bisa diubah—kecuali dalam medis—ya, saya
seapatis itu. Saya sekolot itu sampai di tanggal yang muncul empat tahun sekali
ini, saya melihat poster dari akun @womenmarchjkt menggelar acara
Panggung Ekspresi Gerak Perempuan dalam rangka menuju International Women’s
Day 2020 pada tanggal 8 Maret. Tanpa niatan yang pasti dan persiapan yang
lengkap, saya langsung mandi, bersolek lalu pamit pergi ke LBH Cikini
bersama dengan diri saya sendiri.
Ketika saya sampai, saya disambut
oleh tirai berbentuk vagina sebesar dua pintu utama yang dibuka lebar. Terlalu
eksplisit tapi saya tidak mau menunjukkan keterkejutan saya karena wajah-wajah
di ruangan ini seperti terbiasa melihat pajangan alat kelamin seperti itu. Ini
pertama kalinya saya menghadiri acara yang pesertanya terdiri dari orang-orang
berpakaian aneh. Ada yang menggunakan baju berlubang terlalu banyak dan
menampilkan tatto tubuh mereka, baju dengan belahan dada yang terlalu rendah dan terlihat bra di dalamnya, sampai yang menggunakan pakaian rapat, longgar
serta bercadar. Saya bingung menaruh mereka ke dalam kelompok kelas dengan
pakaian apa, benar-benar random, tidak seperti acara pertemuan lain
dengan dresscode yang sudah ditentukan. Saya pernah membaca artikel di salah
satu media online tentang kebebasan berpakaian yang mengaitkan bahwa
pakaian seorang perempuan bukanlah alasan utama ia diperkosa, karena
pemerkosaan adalah salah pemerkosa bukan salah korban dan pakaiannya. Di tempat ini saya merasakan kebebasan berpakaian itu nyata.
Acara yang dimulai sejak jam 2
siang ini semakin sore semakin ramai didatangi pengunjung. Bukan hanya dari
kaum Hawa, namun kaum Adam pun banyak yang mendukung gerakan kami dengan cara
datang ke acara feminist. Semua bercengkrama layaknya orang-orang yang sudah
saling mengenal. Saya merasa punya keluarga baru yang wajahnya terisi dengan senyum. Saya suka energi positif di dalam Hall LBH
Jakarta sore itu. Kedua moderator yang memandu acara sangat energik. Mereka
mengajak peserta yang hadir untuk berani open mic, mengingatkan kembali
bahwa di ruangan ini semua dapat disampaikan dan semua dapat perlindungan. Tak
perlu ragu atau resah.
Seorang ibu beranak empat berkaus
merah membuka cerita bagaimana susahnya menjadi pekerja rumah tangga dengan
hak-hak yang lebih banyak dikesampingkan, belum lagi RUU omnibuslaw yang halu
menjadi salah satu tambahan untuk mengekang para pekerja dan menjauhkan dari
hak-hak hidup sebagai manusia. Miris didengar tapi saya bukan pekerja, jadi
saya belum menemukan titik terberat dari seorang perempuan pekerja rumah
tangga. Bukankah semua manusia memang sudah memiliki porsinya masing-masing
dalam menjalani kehidupan? Saya pun punya masalah saya sendiri yang menggiring
saya sampai ke acara ini.
Sesi berganti. Moderator
menjelaskan tentang beberapa kicauan di sosial media yang memojokkan feminist
dari segala segi. Saya heran, pergerakan yang tidak merugikan pihak manapun,
masih saja kena kecam. Memang dunia ini penuh dengan orang yang lucu-lucu.
Salah satu contohnya adalah, feminist kerjanya hanya marah, marah, dan marah,
katanya. Semua yang berada di sini setuju, kecuali saya. Saya bingung, kenapa
juga dibilang tukang marah tapi malah setuju? Mungkin saya terlalu awam untuk
ikut menyetujuinya. Bagi saya marah adalah tindakan yang tidak baik adanya.
Jika masih diciptakan sabar, untuk apa harus marah?
Sampai moderator dengan
gemulainya melenggokkan kaki di depan kami, peserta yang duduk. “Bagaimana bisa
nggak marah kalau hak-hak kita gak diberikan dengan baik?!” katanya. Semua
berteriak meluapkan rasa kesal yang tertahan. Kali ini saya mulai paham dan
setuju. Moderator mengajak semua yang ada di ruangan bercat putih ini untuk
mengungkapkan rasa marah mereka sebagai perempuan dan manusia yang tidak
dimanusiakan oleh masyarakat yang menggangap dirinya manusia paling sempurna. Mikrofon melayang dan sampai pada tangan orang yang langsung menyambut benda itu dengan
bara api menggebu dalam jiwa, terdengar dari suaranya yang lantang.
“Gue marah kalau perempuan mau
berdemokrasi tapi dibatasi!” confession yang menyerempet pemerintahan
dan genderisasi yang menarik. Setelah itu, semua bertepuk tangan dan saya diam.
Setelahnya, sumber suara berada dari dua baris di belakang saya, “Gue marah
karena teman gue hamil tua masih disuruh kerja.” Jujur, saya tidak tahu ada
yang tega menyuruh ibu-ibu hamil bekerja. Yang saya tahu, orang hamil memiliki
cuti yang lumayan lama sampai melahirkan dan menyusui, namun sepertinya fakta
yang terjadi berbeda dengan asumsi saya sendiri. Nanti akan saya pelajari
kembali, sekarang saya mau fokus mendengar kemarahan dari kaum feminist yang
dicap kerjanya marah doang.
“Gue marah sama pemerintah karena
sampai saat ini RUU PK-S hanya jadi bercandaan doang.” Salah satu dari mereka
membahas hukum lagi dan menyerempet pemerintah. Saya orang awam, saya tidak
tahu, hanya tepuk tangan.
“Saya marah kalau ada yang bilang
wanita yang pulang malam itu wanita yang nggak benar.” Related, julidan
tetangga ini 100% akurat. Yang enteng seperti ini dan sering sekali terjadi
lebih mudah ditangkap oleh otak saya.
Mikrofon bergulir ke arah depan. Kali
ini laki-laki yang menggenggam. Tak perlu lama menunggu, ia langsung angkat
suara yang menggebu, “Gue marah kalau lagi jalan santai dan dikatain bencong.
Gue laki, woy!”
Saya terkesima, lebih tepatnya
bengong. Mata terkunci melihat ke arah laki-laki yang sudah tak lagi memegang
mikrofon. Sekilas tak ada yang salah dari pakaiannya, kaus dan celana jeans.
Wajahnya rupawan, seperti laki-laki yang terawat. Tetapi saat ia menggerakkan
tubuh terlihat lebih gemulai daripada perempuan. Saya kira laki-laki yang
mempunyai tubuh kurang maskulin memang sengaja agar dikatakan bencong dan
sejenisnya. Bercandaan sehari-hari yang memberi mereka label nama baru juga
identitas yang dikarang masyarakat terdengar menyakitkan di orang yang dituju
untuk dihakimi. Ini namanya penghakiman secara verbal.
Mikrofon masih berpindah-pindah
tangan. Ke depan, belakang, ke kiri, ke kanan, kembali lagi ke depan dan
seketika ada di mana-mana. Semua kemarahan bersaut-saut. Suasana riuh. Kemarahan mengudara, bersaing dengan oksigen yang ada. Tetapi, siapa pun itu
yang selesai mengeluarkan emosinya, tercetak jelas senyuman rasa lega
setelahnya.
“Gue marah kalau polisi bilang
perempuan nggak pantas untuk demokrasi.”
“Gue marah kalau ada yang
menjadikan agama sebagai alasan melakukan pelecehan seksual.”
“Aku marah ketika suara
aspirasiku malah dibalas gas air mata.”
“Gue marah ketika ada yang bilang
pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan perempuan.”
“Saya lelah. Saya capek karena
laki-laki dituntut untuk melakukan segala hal sedangkan perempuan berada di
rumah.” Pemikiran kaum patriarki yang mengedepankan asas maskulinitas memang
jadi merumitkan kaum laki-laki itu sendiri. Perempuan dididik sejak kecil untuk
meminta bantuan kepada laki-laki, untuk berlindung kepada laki-laki, dan mengerjakan
pekerjaan semampunya. Sedangkan laki-laki dituntut untuk bisa mengerjakan semua
hal. Padahal sejak lahir, Tuhan memberikan porsi tubuh yang sama. Kami perempuan
dan laki-laki memiliki tangan untuk mengangkat barang, kaki untuk menendang
demi proteksi diri, dan kemampuan manusia dapat diasah bukannya malah dibiarkan
menjadi lemah dan bergantung pada sistem yang mengedepankan pemikiran
patriarki.
“Gue marah ketika orang-orang
pada bilang, jadi perempuan jangan terlalu pintar, nanti laki-laki tidak ada
yang mau.” Lagi, sistem dunia ini masih mengedepankan pemikiran ala patriarki.
Entah sistem dunia atau memang negeri ini saja yang kolot.
“Gue marah kalau ada yang
laki-laki mengaku pro feminist tapi dia rapist.”
Untuk kedua kalinya saya
tertegun. Saya diam sambil memeluk kaki sendiri dalam posisi duduk. Itu pernah
saya rasakan. Ketika seseorang beriteligensi tinggi dan berkelakuan cukup baik
di depan publik ternyata di balik itu, keburukannya adalah menjadi pelaku
tindak seksual. Saya pernah menjadi korbannya, tapi saya tidak mau membongkar
memori lama. Saya kubur dalam-dalam. Itu pun menjadi alasan mengapa saya ada di
ruangan ini.
Tubuh ini terasa panas, saya mau meluapkan marah tapi rasanya
tertahan. Marah untuk apa juga? Kemarahan saya sudah diwakili. Tapi saya ingin
marah tanpa menangis. Saya ingin marah dan merasa menang seperti yang dirasakan
orang-orang lainnya saat ini. Seberat itu jadi perempuan yang hidup di dunia
penuh dengan patriarki. Sadar tidak mereka yang di luar sana bahwa dunia ini
tidak akan ada jika tidak ada perempuan? Atau mereka marah karena dunia ini ada karena perempuan?
Tepukkan tangan, sorakan, dan
kemarahan masih menjadi topik inti yang agak meredup karena distraksi dari
panggung kecil di depan sana sedang melakukan check sound. Saya rasa
sebentar lagi masuk ke acara berikutnya. Benar saja, moderator meredam suasana
marah ruangan ini, pendinginan dimulai. Kami semua bertepuk tangan merasa lega tapi saya tidak.
Saya masih ingin marah dan mengeluarkannya. Tapi saya lemah, saya takut
menangis setelahnya. Tidak tahu mengapa, saya ini cengeng. Padahal sudah
tertanam dalam diri kalau saya akan baik-baik saja dan ruangan ini sempat
membuat saya merasa bebas lepas. Mungkin sifat introvert saya membuat energi
saya habis tertelan keramaian.
Saya tidak ahli dalam
mengungkapkan rasa, maka saya bicara dengan kenalan saya yang berada di LBH
Jakarta juga sore itu. Saya bersyukur dapat kenalan baru. Saya akan sangat
menyesal jika tidak mengeluarkan kemarahan saya kepada publik. Saya hanya ingin
bilang bahwa saya marah ketika perempuan tidak bisa menghargai sesama
perempuan.
Komentar